Taman Hiburan yang Butuh Dihibur: Taman Remaja Surabaya

Di sudut taman hiburan itu, wahana ini tertunduk lesu.
Warna-warna yang memudar, diperbarui, dicat ulang dengan setengah hati, seakan dipaksa untuk ceria.
Batinnya, “Kemarilah, tolong. Sekarang giliran kalian untuk menghiburku.”

Taman hiburan yang  sungguh butuh dihibur.

Processed with VSCOcam with a5 preset
Gerbang dan loket pintu masuk

Kemarin, saya dan beberapa teman dengan sengaja mengunjungi Taman Remaja Surabaya yang sedikit mulai dilupakan para remaja Surabaya yang kini lebih memilih pergi ke mall atau diam di rumah menghibur diri menatap layar 5 inch di muka hidungnya.
Kami berniat melakukan photoshoot di situ sore itu
Jujur, saya juga termasuk dari sekian puluh ribu remaja Surabaya yang nyaris melupakan tempat itu.
Tempat yang menjadi motivasi kami meraih ranking 10 besar saat di bangku sekolah dulu.

Kala itu, kami masih terlalu muda untuk tahu apa itu Disneyland. Apalagi untuk tahu bahwa sewaktu besar sekarang, ternyata kami bisa ke luar negeri dengan backpacking dan pergi ke Disneyland. Bagi kami kala itu, Taman Remaja Surabaya adalah kebahagiaan. Mutlak. Hadiah dari bapak dan ibu.

Masih saya ingat, di musim libur sekolah, beberapa bus ber-nopol luar Surabaya terparkir di sana. Taman Remaja menjadi tujuan utama orang-orang dari luar Surabaya untuk berlibur bersama. Semacam tempat wisata bagi mereka.

Harga tiket masuknya sangat sangat terjangkau, hanya 12 ribu rupiah, belum termasuk tiket untuk naik wahana tentu saja. Jauh lebih murah dari tiket masuk taman hiburan baru di perbatasan Surabaya-Sidoarjo sana.

Kami datang sekitar pukul 5 sore. Jangan terkejut, kami bertujuh adalah satu-satunya pengunjung sore itu.
Sedih. Tempat yang penuh keceriaan bagi kami dulu itu lah yang seakan justru lebih perlu dihibur ketimbang kami pengunjungnya.

Processed with VSCOcam with a5 preset

Warna-warna yang mulai kusam, dicat kembali agar terlihat ceria, yang menurut saya seperti bapak tua renta yang dipaksa berpakaian ala remaja. Aneh lah pokoknya.

Beberapa wahana memang terlihat masih berdiri kokoh, dengan sedikit karat di sana-sini, bahkan bagian atasnya sudah mulai berdebu. Mungkin sudah malas membersihkan, karena pegawainya sudah keburu pesimis. “Buat apa susah-susah membersihkan, toh sudah sepi.”

Processed with VSCOcam with f2 preset
Boom-Boom Car, satu-satunya wahana yang berani saya naiki hingga sekarang :))
Processed with VSCOcam with c1 preset
Monorail yang secara mengejutkan masih bisa melaju dengan kencang
Processed with VSCOcam with c1 preset
Rumah Hantu

Menjelang malam, kami cukup terkejut, ternyata semakin ramai! Lampu-lampu wahana mulai dinyalakan, beberapa pengunjung mulai menaiki wahana. Ya, beberapa. Tak sampai memenuhi seluruh kursi wahana kok.

Processed with VSCOcam with c1 preset
Si Ayunan di waktu sore.
Processed with VSCOcam with f2 preset
Si Ayunan di saat malam. Lampunya cantik.

Bunyi-bunyian khas wahana juga masih kencang memekakkan telinga bercampur dengan teriakan histeris kegembiraan beberapa penumpang wahana.

Keceriaan itu kembali! Keceriaan yang familiar itu kembali!

Our childhood so-called Disneyland is baaack!

Meskipun kebosanan masih saja terlihat di wajah-wajah bapak ibu paruh baya penjaga loket tiket wahana.

Terlihat beberapa anak muda dengan kaos tie-dye khas rasta sedikit demi sedikit memenuhi tempat itu. Rupanya, setiap Jumat ada penampilan musik Reggae di tempat itu, tepatnya di panggung yang biasanya digunakan untuk konser dangdut di mana Inul Daratista mengawali kariernya.

Processed with VSCOcam with f2 preset
Panggung legendaris

Beberapa keluarga juga terlihat datang ke situ. Dengan pakaian sederhana plus jaket seadanya (ya, anginnya cukup kencang di situ saat malam), mereka tertawa-tawa menunggui balita mereka menunggangi wahana kuda-kudaan Merry-Go-Round alias Komedi Putar.

Processed with VSCOcam with a5 preset

Berfoto di situ juga jauh lebih mudah kini. Dulu, kami perlu tukang foto keliling untuk kenang-kenangan berkunjung ke Taman Remaja. Sekarang, cukup dengan ponsel, jadilah foto kenang-kenangan di Taman Remaja, bahkan video juga bisa. Video si anak kesayangan pertama kali naik Komidi Putar tertawa memamerkan gigi susu yang baru tumbuh satu.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Kami pun memutuskan untuk pulang. Angin semakin kencang. Kami lebih takut masuk angin ketimbang suara hantu-hantuan dari wahana rumah hantu.

Di luar, di dekat gerbang pintu masuk, logo Taman Remaja Surabaya masih menyala. Rupanya cahaya bintang yang menjadi logo tempat hiburan ini ternyata belum redup, atau bahkan mati seperti yang dibilang orang-orang. Tak seramai dulu memang, tapi masih hidup.

Dengan nafas lebih lambat, tersengal-sengal, penuh keikhlasan untuk membahagiakan mereka yang membutuhkan.

Tempat ini masih menjadi pilihan bagi beberapa orang dari kalangan menengah ke bawah untuk hiburan murah meriah, sembari bernostalgia dan bercerita ke anak-anak mereka.

Nduk, ibuk dulu kalau raport-nya bagus bisa gratis main di sini. Dulu kalau nukarkan raport bisa antre panjaaaang sekali.”


Bonus video bikinan seorang teman.

You may want to read these

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *