Tahun Ketiga, Edisi Ke-100

Saya ingat, kepada seorang teman, saat itu saya semacam mengeluh bosan dengan rutinitas ke
kampus tiap hari tapi nggak ada perlu apa-apa karena udah habis mata kuliah. Saya baru saja menyelsaikan Tugas Akhir D3 saya waktu itu, praktis udah nggak ada kegiatan apa-apa lagi selain menanti pengumuman jadwal sidang.
Rupanya, teman saya menanggapi serius apa yang saya keluhkan, dan mengabarkan bahwa ada lowongan pekerjaan yang mungkin bisa saya coba sembari menunggu jadwal sidang.

“Kamu kan suka nulis, ini ada lowongan, mungkin bisa kamu coba.Kirim CV nya ke email ini ya.”

What? CV?

Satu-satunya CV yang pernah saya buat dalam hidup saya adalah CV bohongan untuk tugas mata kuliah Bussiness Correspondence. Dibuat dengan sangat standar sesuai dengan panduan yang tertera pada diktat mata kuliah saat itu.

Malamnya, saya memutuskan untuk mencoba melamar pekerjaan yang ia tawarkan. Berbekal diktat mata kuliah yang sama, saya membuat kembali CV saya. Hampir nggak ada perubahan dengan CV yang pernah dibuat dulu, karena emang nggak pernah punya pengalaman kerja.Plus saya juga membuat surat lamaran atau cover letter sesuai yang disarankan buku tersebut. Segala langkah-langkah mengirim lamaran kerja via e-mail dengan baik dan benar yang ada di buku itu saya ikuti.

Klik ‘send’. Dan tanpa harapan apa-apa.

Seminggu berselang, saya hampir lupa kalo pernah mengirim CV lamaran kerja, hingga akhirnya sebuah SMS masuk, mengundang saya untuk wawancara kerja esok hari.

W O W !

Saya hampir lompat saking nggak percayanya. I am one step closer to my very first job!

Besoknya, saya datang ke tempat yang udah ditentukan. Di lobby sebuah budget hotel di daerah Tunjungan. Sedikit ragu karena undangannya di lobby. Takut kenapa-kenapa. Takut jangan-jangan ini penipuan terus saya dijual ke luar negeri.

Setiba di lokasi, makin takut. Sepi nggak ada siapa-siapa. Saya pun menghubungi mas-mas yang menghubungi saya via SMS, katanya dia masih di jalan. Baiklah.

Seorang gadis sebaya dengan saya tiba-tiba datang, duduk di kursi tak jauh dari saya. Dia sibuk dengan smartphone nya, dan tak berhenti menelepon dan berbicara dengan logat yang sama sekali ngga medok. Dari dandannannya, sepertinya dia mbak-mbak gaul.

Kemudian ada gadis lain yang datang. Berjilbab. Sepertinya lebih muda dari saya. I’ve never been to a job interview before, and I really didn’t know what to do. Deg-degan banget.

Nggak lama, tiba-tiba datang tiga orang dengan tergopoh-gopoh. Yang kemudian saya ketahui sebagai interviewer saya sore itu.

“Halo, maaf ya lama. Sempet nyasar tadi. Eh langsung interview aja yuk. Siapa duluan nih yang dateng?”

Bingung. Takjub.

“Saya dateng duluan mbak.”

“Oh, oke, yuk sini.”

Mbak yang supel ini ternyata mbak Veni. Mas-mas di sampingnya adalah mas Yudhi.

Interview nggak berlangsung seseram yang saya duga.Sepengetahuan saya, saya akan ditanya visi misi, blablabla dan printilan-printilan yang berhubungan dengan kooperasi.

Saya mencoba menjawab sesantai mungkin. Karena emang yang ditanyain juga santai banget. “Kamu tau majalah ini? Menurut kamu kayak gimana? Hobinya apa? Terakhir dengerin musik apa? Terakhir nonton film apa? Kegiatannya apa aja?”

“Suka nulis?”. Deg.

“Suka mbak, di blog.”

“Oh ya? Mana mau liat dong!” kata mbak Veni antusias.

Mbak Veni langsung membuka blog ini, yang waktu itu masih sering diupdate, dan bertanya dan berkomentar ini itu sembari scroll-scroll tulisan saya.

Saya nggak pernah bermaksud membuat blog saya untuk dibaca orang lain sebenernya, makanya sebenernya agak malu juga pas dibaca mbak Veni.

“Yaudah, kita kasih PR aja ya. Coba kamu bikin tulisan tentang komunitas di Surabaya, sama artikel cover story. Kirimin hari Senin ya.”

Dan interview pun selesai.

Singkat kata, dua artikel itu saya kirimin sesuai hari sudah ditentukan. Selama beberapa hari tak ada balasan.Saya udah hampir mengikhlaskannya.

Sampai akhirnya saya menerima email job offering. Saya ompat-lompat di kamar pas baca email itu.

I GOT MY FIRST JOB!!

Hampir tiga tahun berlalu setelah hari yang sangat surealis itu. Dan saya masih menulis untuk majalah itu. Jungkir balik sambil melanjutkan kuliah lagi, begadang karena deadline majalah yang bentrok dengan deadline tugas kuliah, saya seperti manusia ulang-alik saat itu. Kantor-kampus-rumah begitu terus setiap hari. Janji interview narasumber di tengah-tengah janji kerja kelompok tugas kuliah. Nego jatah absen dengan dosen karena tugas kantor ke luar kota.

Ya begitulah *sigh*

Anyway, gara-gara kerja di sini juga akhirnya saya ke Jakarta untuk pertama kalinya! Dan naik pesawat! Gratis! hahahahaahahhahahahaha

Oke, sorry.

Bulan ini, majalah itu mencapai edisinya yang ke-100. Edisi yang cukup berarti buat saya. Seneng banget rasanya mendapat kesempatan untuk menulis Cover Story-nya. Tapi bukan itu alasannya. Saat membaca isinya, ada banyak sosok-sosok lama yang cuma sempat saya dengar namanya sebagai pendiri majalah ini. Orang-orang yang nggak sempet saya kenal.
Mereka ditanya tentang gimana dulu berdirinya majalah ini blablabla. Beberapa part bikin saya terharu dan bersyukur menjadi bagian dari proses yang belum berhenti ini. Ada cerita tentang anak-anak SMA pembaca setia kami, ada pembaca lama yang sekarang udah kuliah yang kangen banget dengan majalah ini, ada timeline edisi-edisi yang spesial menurut kami. Seperti mesin waktu. Seperti api yang senantiasa menyulut sumbu yang hampir padam. Seperti reminder untuk jiwa yang setengah lupa lalu tertidur.

DSC02437

DSC02445

Tempat yang nggak pernah saya duga ini, sekarang begitu nyaman bagi saya. Apapun yang terjadi, sepertinya selalu mendapat pemakluman dari saya. Tempat yang merubah saya sedikit melongokkan kepala saya keluar dari cangkang keraguan saya. Tempat yang mempertemukan saya dengan teman-teman baru. Teman-teman yang bikin saya membatin, “astaga kamtor apaan sih ini kocak banget,” teman-teman yang seru, teman-teman yang membuat saya selalu terpacu, teman-teman yang keren, teman-teman yang membuat saya bangga mengenalnya.

Emang nggak mudah buat memulai sesuatu, dan lebih nggak mudah lagi buat mempertahankannya. Meskipun dengan orang-orang yang nggak lagi sama, dan perubahan di sini situ, hal yang sudah dimulai nggak boleh ditinggalkan begitu saja di tengah jalan. The Revolution of Ideas dan tanda seru di belakang namanya, bukan diletakkan tanpa percuma. Ada semangat di situ, ada ide-ide yang siap diledakkan. Ide yang tak pernah terpikirkan, coba untuk dihadirkan dari sisi yang kreatif dan menyenangkan.

DSC02415

Selamat edisi yang ke-100, Provoke! Magazine. Selalu bangga menjadi bagian dari revolusi ide yang tak kenal henti ini.

You may want to read these

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *