Reminiscing 2015

Taking a look back is not usually my thing, but this year, the wonderful 2015, deserves a look-back. Reminiscing what I’ve lost, what I’ve found, and what I’ve stayed for.

It’s year-end and it’s almost another new year again. People are posting about their last new year’s resolution, check-listing which one is completed already, and ready to make another new-year’s resolution.

I remember I didn’t have any new year’s resolution back in the early 2015. I only wish that everything gets better and I didn’t hope on anything. 

This 2015 has been a crazy year for me. Probably the busiest year in my entire life. I’ve done so many things at the same time, I loved many things at the same time, and surprisingly, I’m enjoying them all, also at the same time. If I take a look at how I started my first Monday on 2015, I can’t believe the year can be so amazing. And I am so thankful for everything.

DSC02223

Saya masih ingat, tepat setahun kurang dari dua minggu dari sekarang, yaitu tanggal 5 Januari 2015, saya terbangun dengan penuh kecemasan. Hari itu adalah harusnya hari pertama saya masuk kerja sebagai seorang guru Bahasa Inggris kelas 2 SD. Ya, akhir 2014 lalu saya mendapat sebuah tawaran pekerjaan mengajar sebagai guru SD akibat iseng dan asal mengajukan sebuah lamaran pekerjaan melalui situs pencarian kerja. Saya, yang saat itu baru dua bulan jadi sarjana benar-benar nggak tahu harus berbuat apa. Maklum, sarjana baru. Euforia wisuda, dan impian yang ketinggian. Singkat cerita, saya telah menjalani proses interview dan tes mengajar, dan sang kepala sekolah serta kepala yayasan memutuskan saya diterima sebagai guru di sekolah tersebut. Mereka mengatakan saya akan mulai mengajar tanggal 5 Januari 2015.

Dan hari itupun tiba. Saya terbangun dengan penuh kecemasan. Gelisah. Hati kecil saya seperti tak rela. Belum lagi, saat itu saya memang belum mengundurkan diri dari pekerjaan saya yang sekarang. Dengan segala kenekatan, saya menjadi seorang pengecut dan memilih untuk tak datang ke sekolah pagi itu, dan tak menon-aktifkan handphone saya hingga menjelang siang.

Menjelang siang, saat saya menyalakan kembali handphone saya, sang Kepala Sekolah menghubungi saya. Dengan terbata-terbata dan berdebar-debar, saya menjelaskan bahwa memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut, karena sepertinya saya belum siap berganti profesi menjadi seorang guru.

Menjadi guru memang cita-cita saya sejak kecil, namun setelah hampir tiga tahun bekerja di bidang kreatif dan mencintai segala sesuatu di dalamnya, saya seperti tak rela meninggalkannya. Dibilang gak berani keluar dari zona nyaman? Bodo amat!

Syukurlah, Tuhan rupanya tak menghukum saya terlalu lama dengan penyesalan dan kegelisahan. Saya bertemu dengan banyak orang baru sepanjang tahun 2015 dan satu persatu tawaran dan ajakan menarik berdatangan.

Februari 2015, untuk pertama kalinya saya dipercaya menjadi seorang penerjemah untuk sebuah majalah. Saya, yang saat itu memang sedang berniat menabung untuk laptop baru, segera saja mengiyakan tawaran tersebut. Sarjana baru ini berpikir, “Lumayan nih buat tambahan tabungan beli laptop!” 😀

Tanpa disangka, editor majalah tersebut memberikan saya tawaran lain. Selain menerjemahkan, saya juga diminta untuk menulis sebuah artikel untuk majalah tersebut. There will be my name written on the article as the contributor. AND MY PHOTO IS ON THE EDITORIAL PAGE!! 

DSC02297

DSC02295

Saya tau, nama saya sudah sering tertera di halaman editorial majalah tempat saya bekerja. Tapi melihat nama plus foto diri sendiri muncul di majalah lain, sungguh lain rasanya! Bangga, bahagia!

Di awal tahun pula, saya mendapat tawaran dari seorang teman untuk membantu kafe yang baru saja ia buka. Namun tak berlangsung lama, hanya beberapa bulan, saya memutuskan untuk berhenti untuk satu dan lain hal yang kurang bisa saya sepakati. Sejujurnya saya sempat merasa tak enak dengan teman tersebut, but business is business and life must go on.

Syukurlah, tak lama setelah itu, setelah berhasil mengikhlaskan dan belajar dari kesalahan sebelumnya, saya mendapat beberapa tawaran lain yang bisa dibilang, membuka beberapa kesempatan-kesempatan lain yang menyenangkan. Bertemu dengan orang baru, belajar hal-hal baru dan menemui hal-hal baru, berkolaborasi, bertukar ide, melihat banyak hal baru.

Tahun ini, saya dan beberapa teman tergabung dalam Kuning Telur Kreatif. We made creative things for brand. We made awesome photos, brainstorming ideas, and many things. It’s a pleasure meeting these new people. They are so passionate, creative, and fun at the same time! 

Kuning Telur
Kuning Telur

Ah, saya juga berkesempatan menonton konser dua musisi dan grup band favorit saya di 2015 ini, Frau dan Barasuara.  Dua konser yang mungkin tak akan saya lupa. Banyak cerita dan banyak kesan.

DSC00183
Frau
barasuara
Barasuara

Oh iya, hampir lupa juga! Di tahun 2015 ini, akhirnya saya punya website sendiri! Yaaaay, senang sekali! Dan salah satu tulisan saya entah bagaimana bisa dibaca 1700-an dalam waktu sehari. Saya sendiri gak percaya :)))

Well, saya selalu percaya, dan selalu yakin, kehilangan-kehilangan yang saya alami selama satu tahun tak pernah sia-sia. I’ve let go off things all these year, and found countless wonderful things. Until I wrote this, I can’t believe I survived one of the most exciting year in my life. And now, I’m all ready for more surprises in 2016. I don’t want to expect too much, but let’s see how I’ll learn more and getting more stronger in the next 2016.

Happy new year!

You may want to read these

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *