Tersepikan Keramaian

Saya sedang larut dalam keriaan sebuah acara musik bersama ratusan, err…bahkan mungkin ribuan anak muda lain ketika sudut mata saya tak sengaja menangkap sosok bapak tua ini.

Beberapa dari kalian mungkin akan mengira saya lebay dan terlalu baper dengan hal yang saya jadikan tulisan ini. Tapi, jika kalian pernah mendengar lagu ‘Kosong’ dari Dewa 19, dan familiar dengan lirik “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi..” sedikit banyak tulisan ini akan mengingatkan kalian dengan lirik itu.

Waktu itu adalah Jumat (6/10) malam, ketika saya sedang bertugas meliput sebuah acara musik yang diadakan oleh salah satu SMA di Surabaya. Acara musik sekolah yang kelewat ‘wah’ kalo menurut saya. Gimana enggak? Acara musik, atau pensi, yang sejatinya adalah acara untuk warga sekolahnya, perlahan mulai berubah menjadi ajang unjuk gigi dan adu gengsi antar sekolah. Ah, tapi sudahlah, bukan itu yang akan saya bahas dalam tulisan ini.

Di acara musik tersebut, Al Ghazali lengkap beserta band sang ayah, Dewa 19, dan Ari Lasso diundang untuk menjadi bintang tamu di acara itu. Sungguh pengisi acara yang super duper combo. Al Ghazali, sang penarik penonton muda dengan pertunjukan musik elektroniknya, dan Dewa 19 feat. Ari Lasso sang penarik penonton agak tua atas nama nostalgia.

Saya terburu-buru masuk ruang pertunjukan ketika Al Ghazali ternyata sudah mulai tampil. Hingar bingar suara musik yang beradu dengan suara penonton ditambah gemerlap tata lampu panggung membuat saya kesulitan beradaptasi dan kerepotan sendiri memasang kamera untuk membidik momen dari atas panggung. Sempat saya tak menikmati penampilan si DJ pujaan gadis-gadis remaja itu, karena bukan jenis musik yang saya suka, tapi ya sudahlah, sayapun tetap memotret sekenanya.

Selepas Al, giliran Dewa 19 dan Ari Lasso yang tampil. Area depan panggung seketika diserbu golongan-golongan tua yang menyaksikan band pujaan seangkatan mereka. Dalam hiruk pikuk itu, ujung mata saya menangkap sosok bapak tua yang rupanya sedang kebingungan ada di tempat itu. Saya katakan bingung, karena dia seperti tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menikmati momen itu. Pakaiannya sungguh sangat sederhana dengan kemeja dan celana kain berwarna coklat yang senada. Mungkin beliau berusia 60 tahunan jika saya tak salah terka.

Monyong1

 

Berkali-kali bapak ini mengacungkan tinjunya ke udara dengan canggung sebagai tanda kegembiraannya karena ada di situ. Kadang ia juga tertawa dan bersorak seadanya dengan canggung. Tak jarang juga ia menoleh ke kiri kanannya seakan mencari seseorang yang bisa ia ajak berbagi kesenangannya, atau hanya untuk sekadar mengobrol menyampaikan kesannya atas acara ini. Tapi kanan dan kirinya hanyalah segerombolan anak SMA yang sedang asik menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan sang penampil dari atas panggung, larut dalam euphoria-nya masing-masing. Mengingatkan saya akan lirik lagu Kosong yang pernah dinyanyikan Dewa 19, “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi..”

Cukup lama saya memperhatikan bapak ini. Sesekali bapak ini duduk di jeda pergantian lagu.

Iseng saya bertanya kepada salah seorang panitia, yang merupakan siswa dari SMA tersebut.

“Itu siapa?” tanya saya.

“Oh. Itu pegawai sekolah mbak.”

“Oh yaa? Bagian apa?”

“Emm.. apa ya, kayak OB gitu lho, mbak.”

“Hooo… okay.”

Rupanya bapak itu adalah salah satu orang yang bantu-bantu di sekolah itu. Belakangan saya baru tahu jika beliau bertugas sebagai pengatur parkir mobil di sekolah. Pantas saja jika beliau terlihat canggung dengan segala keriaan di sekitarnya.

Monyong5

Monyong4

Tak lama setelah saya iseng bertanya kepada siswa tersebut, Ari Lasso bercerita, bahwa ada salah seorang ‘pahlawan’ pada waktu ia masih bersekolah di SMA tersebut, namanya Monyong. Ahmad Dhani pun dengan cekatan menyahut, “Tepuk tangan buat Monyong!” yang disambut tepuk tangan dari para penonton. Dan bapak tersebut berdiri! Melambai-lambaikan tangan ke udara sambil memegang sesuatu, mirip gulungan, entah apa. Saya terharu melihatnya. The hero finally got his own spotlight!

Gurat-gurat usia terlihat jelas di wajahnya di bawah hujan kilatan lampu dari panggung di atasnya. Lelah, bahagia, tapi entah untuk siapa. Seakan momen itu tak tahu bagaimana harus ia nikmati seutuhnya dan harus berbagi dengan siapa. Mengacungkan tinju ke udara merayakan kemenangan yang mana. Mungkin, jauh dalam hatinya, ia tersenyum bangga melihat anak-anak bengal yang dulu rajin menggodanya bisa menjadi sebesar sekarang, menjadi dikenal banyak orang. Tapi sorot matanya seperti sedikit menagih sesuatu. Menagih perhatian bahwa ia lah yang dulu meladeni tingkah mereka dengan sabarnya yang mungkin jika hari itu tak pernah terjadi, mereka tak akan tahu jika pak Monyong masih ada, dengan setia melakoni peran yang sama.

Sementara, remaja-remaja di sekitarnya hampir tak peduli dengannya. Mengabadikan momen demi feed Instagram atau melambai demi jabatan tangan dari sang idola jauh lebih penting daripada menemani pak Monyong menikmati acara yang ramai, namun mungkin terasa sepi baginya.

Monyong2

“Pak, sini lihat sini pak, foto dulu!” teriakku di antara riuh rendah suara musik.

Bapak itu pun tersenyum, dengan sigap menghadap ke arah saya, dengan bangga menunjukkan gulungan yang sedari tadi dipegangnya. “Ini foto sama Ahmad Dhani! Udah jadi!”

 

 

 

 

 

You may want to read these

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *