Kuade, oh Kuade..

*Kuade = pelaminan (bahasa Jawa)

Kurang lebih sudah 5 tahun sejak saya pertama kali menghadiri pernikahan seorang teman, hingga saat ini entah berapa banyak pernikahan teman yang sudah saya datangi. Ketika mendengar kabar seorang teman akan menikah, saya begitu senang. Mungkin itu yang disebut dengan ‘turut berbahagia’.

Dalam beberapa kali kesempatan, saya bahkan secara khusus menjahitkan baju untuk datang ke acara tersebut, atau datang ke luar kota untuk menghadirinya. Saking pengennya ikut merasakan kebahagiaan sang manten.

Sayangnya, selama 5 tahun sejak pertama kali kondangan hingga kini, saya jarang sekali merasakan bahagia yang seneeeeeng banget karena melihat teman saya menikah. Anehnya, saya kurang merasa ‘turut bebahagia’ justru ketika menghadiri resepsinya.

Malam ini, saya baru menyadari apa alasannya.

Kuade. Atau pelaminan, dalam bahasa Indonesia.

Teman-teman saya kebanyakan menggunakan pelaminan di resepsi pernikahannya. Bukan hal yang salah sebenarnya, toh ini adalah hal lumrah di Indonesia. Mempelai duduk di atas pelaminan, eh sorry.. berdiri deng, sembari menyalami antrian para tamu undangan. I don’t know about this, mungkin maksudnya sang mempelai diperlakukan bak raja dan ratu di hari bahagianya gitu ya. But honestly, to me it looks more like an event handshake di mana para wota mengantri untuk beberapa detik bersalaman dengan oshi-nya.

Menurut saya ini adalah hal yang aneh. Tamu datang, antre, nyamperin mempelai, salaman, terus udah. Mempelai itu bukan sebuah wahana yang kamu samperin, salamin, terus difoto, terus udah gitu aja. Emang nya mereka patung Ronald McD?

How can you feel the happiness they feel? Gimana mereka deg-degannya pas pagi tadi mereka bangun dan ngerasa, “OMG, hari ini aku kawin!”. Atau, gimana stress nya mereka semalam sebelum hari-H, atau gimana pusingnya mereka kudu bangun subuh disamperin tukang rias yang udah siap dengan senjatanya. Atau gimana hebohnya sang manten cowok, “Sorry yaa, aku duluan! Hahahaha,” sembari bercanda menertawakan temen-temen jomblonya. Those madness are THE STORY. The happiness they should share. The happiness that could make you feel the happiness too!

Dengan kuasa kuade, hal-hal seru kayak gitu harus kita skip. Karena salamannya gantian, karena rombongan alumni SMA emak-bapak harus gantian foto bareng, karena rombongan temen kantor harus bikin video Boomerang, and so on, and so on.

It’s not that I’m criticizing them or being disrespectful to my married friends, but I feel sorry for them. I want to come to their wedding and ACTUALLY feel the happiness, listen to their story. Kayak merasa bersalah gitu lho, cuma datang dan nggak bisa bener-bener ikutan merasakan kebahagiaannya mereka, karena jujur kalo kondangan ya saya bisa apa lagi selain incip-incip makanan. ABIS MAU GIMANA LAGI, COBA? Mau ngobrol di atas kuade juga keburu diusir sama WO-nya. “Mba, maaf ya mba, gantian.” 🙁

Resepsi nikahan isn’t just about the couple, but also the guests. Saya yakin, tamu-tamu yang diundang adalah orang-orang yang dipilih untuk turut berbahagia. So, the event/the reception should be A MOMENT both for the couple and the guests. It should be more intimate and closesince it’s a special day, again, both for the couple and the guests.

Belum lagi kalau ada tamu undangan yang bela-belain datang dari luar kota atau bela-belain jahitin baju untuk datang ke undangan, kan kasian kalau cuma beberapa detik nyamperin mempelai tanpa sempet ngobrol haha-hihi berbagi kebahagiaan, atau cuma kebagian foto beberapa detik, terus udah.

Then again, I feel deeply sorry for MC nikahan who keeps saying, “Hadirin yang turut berbahagia…” because I didn’t even feel as happy as it is, because all I did was crawling around trying one food buffet to another ignoring everything. I wish I can just really talk to the couple and hear them share their feeling, their thought, feeling the excitement, looking at their sparkling exciting eyes, or secretly wishing me, “Cepet nyusul ya!”

Again, I’m not trying to criticize or being disrespectful, but I just want to share my thought. Saya paham sekali, dengan mengundang niatnya adalah tetap ingin menjaga silaturahmi, dan jauh di dalam hati kalian mungkin juga ingin sekali menjamu dan menemui tamu secara personal, masing-masing, namun mungkin karena keterbatasan tempat dan waktu, so yeah.

Anyway, kepada semua teman-teman yang nikahannya pernah kudatangi, I sincerely wish I could have a moment to talk to you instead of just coming up to the kuade, shaking hands, smiling, congratulating, taking photos, and just it. I wish I can hug you close because I seriously am happy for you but you know the hug will ruin your make up, paes or sanggul, so we can just fake the cipika-cipiki instead, but that’s okay because you woke up really early for it and that’s a serious effort :’)

Selamat menikah dan berbahagia ya, teman-temanku.

You may want to read these

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *