Konser Tentang Rasa: Sebuah Suguhan Inderawi dari FRAU

Foto ini diambil Kamis (28/10) saat sesi rehearsal dan jumpa pers, sehari sebelum Konser Tentang Rasa digelar. DIkatakan saat itu, Lani akan memakai kostum yang sama, membawakan lagu-lagu yang sama, dengan tata panggung dan tata lampu yang sama, serta aroma-aroma yang sengaja disemprotkan di bagian-bagian lagu pun juga sama.

DSC00189

Tata lampunya saat itu cukup sederhana. Hanya ada beberapa lampu menyorot Lani di tengah. Kalau kata teman saya, “lighting-nya still,” tapi cukup cantik dan memberikan spotlight yang sempurna untuk Lani dan Oskar, pianonya. Aroma-aroma yang disemprotkan pun cukup menyenangkan dan menggemaskan. Saya membaui cinnamon, lavender, dan beberapa wewangian cantik lainnya.

Saya yang saat itu baru pertama kali menghadiri konser tunggal Frau, sudah cukup terkesan dengan acara rehearsal malam itu. Padahal baru rehearsal. Dan saya sudah cukup percaya konsernya yang sesungguhnya akan seapik rehearsal malam itu.

Jumat (30/10) malam, saya kembali hadir ke Gedung Societet dan menonton sesuai undangan yang saya terima. Sudah cukup terkesan dengan sesi rehearsal dua hari sebelumnya, saya nggak berekspektasi apa-apa. “Ah, palingan sama aja kayak pas rehearsal,” pikir saya waktu itu.

Tapi saya salah.

Saat lagu Water dibawakan, saya kaget. Like, literally, ’til I gasped and surprised the person next to me. Saya terperanjat dengan cahaya lampu di bagian bawah background stage yang tiba-tiba bergerak melesat ke atas seperti kilat dan kemudian mulai menari memberikan efek tertentu di latar dinding berlubang di belakang Lani. Indah sekali. Belakangan saya baru tau ternyata dinding itu dipesan khusus untuk konser tersebut.

DSC00183

Tata lampu lainnya. ketika lagu favorit saya, Mesin Penenun Hujan, dibawakan. Sebuah lampu besar berwarna kekuningan agak jingga, menyorot penonton dari belakang dinding berlubang memberikan efek bayangan bulat-bulat ke arah penonton. Sungguh dramatis sembari diiringi lagu Mesin Penenun Hujan yang luar biasa indah. Bukan bermaksud berlebihan, itu adalah pengalaman musikal terindah yang pernah saya alami seumur hidup saya. Tanpa disadari, saya mendapati pipi saya basah oleh air mata, saking terharunya menikmati, melihat sekaligus mendengar dua hal yang indah itu secara bersamaan.

Namun, tak lama setelah itu, momen itu sedikit ‘tercemari’ dengan aroma Indomie goreng yang mendadak menyeruak memenuhi ruangan konser.

Sia-sia rasanya air mata haru ini, karena tiba-tiba diajak bercanda dengan wangi aroma Indomie yang sungguh nggak cocok dengan keindahan visual dan auditorial tadi :)))

But, hey! Siapa yang gak suka aroma Indomie? Bila disuruh memilih pun saya akan memilih wangi Indomie daripada wangi lavender :)))

Benar-benar keindahan dan kenikmatan tiga kali lipat untuk ketiga indera saya sekaligus! :))

Di beberapa lagu lain, Tarian Sari misalnya, lagi-lagi Lani mengerjai para penonton dengan men-dismatch-kan lagu yang indah dengan…..aroma balsem. Seperti nonton konser dengan mbah saja rasanya :)))

Bukannya merasa aroma-aroma nyeleneh tadi merusak mood lagu, menurut saya justru itu memberikan pengalaman baru dalam menikmati musik Frau. Yang biasanya selalu saya dengar saat menjelang tidur, saat tenang, kini mungkin di beberapa kesempatan saya seperti mendengan Mesin Penenun Hujan berasa sedang mengantri di burjo.

Ah, mungkin memang itu yang dimaksud Lani dengan memberikan pengalaman baru dalam menikmati musik.

Malam itu, total kurang lebih 16 lagu dibawakan oleh Lani dalam dua sesi. Di jeda antar sesi, penonton disuguhi minuman (agi-lagi berhubungan dengan rasa, kali ini di lidah). Penonton bisa memilih teh, kopi, susu, atau air perasan jeruk hangat sebagai teman menikmati musik Frau malam itu.

Oh ya, penonton juga dibagikan selembar kertas dan sebatang pensil yang nantinya digunakan untuk menuliskan perasaan dan pengalaman mereka selepas konser tersebut.

Overall, saya benar-benar terkesan dengan konser ini. Saya bisa sebulan sekali mendatangi acara musik atau konser, tapi saya tak pernah sebahagia malam itu selepas nonton konser. Saya pun lupa kapan terakhir kali saya merasa sepuas dan selega itu sepulang nonton konser. Saya seperti merasa ada bagian dalam diri saya, entah di mana, yang tiba-tiba merasa terpenuhi.

Nama “Konser Tentang Rasa” bukan cuma sekadar nama yang diambil untuk tajuk sebuah acara, tapi benar-benar memainkan, meyuguhkan, menciptakan segala rasa yang ada dalam indera¬†saya. Rasa-rasa yang mungkin hampir-hampir saya lupakan akibat harus mengalah dengan kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan. Rasa-rasa yang tadinya pernah saya hirup dalam-dalam, tapi terkalahkan dengan tengiknya perkotaan.

Maaf, saya tak banyak bisa menghadirkan gambar-gambar indah di konser yang hari Jumat, karena memang tidak diperkenankan memotret. Pun saya ingin menikmati keindahannya secara solid dan memiliki keindahan itu untuk diri saya sendiri.

“If I like a moment, for me, personally, I don’t like to have the distraction of the camera. I just want to stay in it.” -Sean O’Connel (The Secret Life of Walter Mitty)

You may want to read these

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *